Sabtu, 09 Juli 2016

BELAJAR DARI RUANGAN HINGGA KE LAPANGAN

Maumere, KN. Sebagai persiapan implementasi program "Peningkatan Pendapatan Masyarakat dalam Manajemen Pengelolaan di Kawasan Egon" kerja sama WTM dengan CEPF telah direkrut beberapa staf baru. Untuk itu, selama dua hari dilakukan kapasitas building di kantor WTM yang difasilitasi oleh Herry Naif (Koordinator Program) dan Kristoforus Gregorius (Koordinator Teknis Pertanian). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Direktur dan dua staf Keuangan WTM (Senin-Selasa, 9-10/05/16)

Setelah itu, para fasilitator Lapangan diberi kesempatan untuk melakukan kunjungan belajar (magang) di wilayah program WTM kerja sama dengan Miserior yakni di kecamatan Mego dan Tanawawo yang sudah berjalan 3 tahun. Kegiatan belajar ini dipimpin Kristoforus Gregorius (Koordinator Teknis Pertanian), (Rabu - Kami, 11-12 Mei 2016)

Tidak semua wilayah dampingan WTM dikunjugi, tetapi hanya beberapa wilayah dampingan yang dikunjungi sesuai dengan perencanaan bulanan dari staf WTM (Fasilitator Lapangan), misalnya di wilayah Dobo dan Kowi (Mego) dan Renggarasi dan Bu Selatan (Tana
Kunjungan belajar (magang) indimaksudkan agar staf baru melihat sendiri kondisi petani yang sedang didampingi lembaga ini dan bagaimana proses yang terjadi di lapangan. Setalah proses belajar lapangan mereka kembali ke kantor WTM, menyeringkan hasil pengalaman dan pembalajaran apa saja yang diperoleh di lapangan  dan kemudian dilakukan pembenahan kapasitas dan manajemen agar pelaksanaan program itu tidak mengalami kendala. 

Dari hasil kunjungan belajar itu ada beberapa pembelajaran diungkapkan beberapa hal postif yang ditemukan di lapangan diantaranya; pertama, pendampingan WTM di sana cukup memberi manfaat dimana bagi petani terutama pertanian organik yang kelestarian lingkungan menjadi perhatian petani. Kedua, petani sudah didorong untuk melakukan penelitian benih (pemulian benih). Ini adalah suatu hal baru yang ditemukan, dan belum dilakukan di tempat lain, ungkap Mus Mulyadi. 


Lebih lanjut, Mus Mulyadi, mantan ketua LMND mengatakan bahwa selain pertemuan dengan beberapa kelompok tani, kami juga mengunjungi beberapa kawasan mata air untuk memantau kondisi terakhir.


Sedangkan Gabriel Maryanto, menemukan bahwa petani di wilayah Bu Selatan sudah mulai dengan pembibitan tanaman pohon mata air yang dilakukan secara mandiri. Ini sebuah pembelajaran menarik, yang mana petani juga memikirkan tentang pemulihan kawasan mata air. Selain itu juga kami menemukan hal negatif yang mana partisipasi kelompok tani dalam diskusi masih lemah, dan secara keseluruhan petani belum memiliki kelender musim yang tentunya menjadi panduan. Karena, perubahan musim ini cukup signifikan yang akan berpengaruh terhadap proses pertanian. 


Menanggapi beberapa hasil belajar yang ditemukan Carolus Winfridus Keupung (Direkut WTM) mengatakan bahwa para staf magang itu ke sana belajar soal teknik memfasilitasi. Karena bila fasilitator salah dalam memfasilitasi maka kita sulit mendapatkan hasil yang baik. Bila dalam perjalanan program kami menilai masih ada yang kurang maka, kami akan mengusulkan untuk kawan-kawan belajar lagi, demikian ungkapnya. 


Sedangkan, Herry kemudian mempresentasikan beberapa hal penting yang harus menjadi target program CEPF sebulan ke depan adalah soal kepastian manajemen kelompok tani, rekruitmen kader tani, identifikasi sumber mata air. Selain itu, ditegaskan bahwa sikap kerelawanan yang dilandasi pada kreatif-inovatif harus menjadi basis pelaksanaan program agar kita tidak terpaku dengan aktifitas program yang ada. Tetapi ada sebuah nilai tawar yang akan menjadi pembelajaran publik.

Lebih dari itu, Herry menekankan kita tidak hanya dituntut penuhi hal administrative tetapi yang harus diutamakan adalah impact di lapangan. Bahwa hasil dari program itu harus dirasakan oleh warga Egon dan harus ada beberapa hektar lahan yang dihijaukan, ujarnya. 

Setelah pertemuan, dilakukan persiapan-persiapan administratif yang perlu disertakan dalam aktifitas program di Mapitara.

Senin, 29 Februari 2016

PESTISIDA ORGANIK DAN MANFAATNYA


Salah satu penyebab menurunnya mutu dan jumlah hasil panen adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Biasanya hama dan penyakit menyerang tanaman di kebun dan juga hasil panen yang disimpan di lumbung. Untuk mengatasi hal ini, kita dapat melakukan pengendalian hama dan penyakit dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal di sekitar kita. Informasi berikut ini merupakan pengalaman WTM bersama petani dampingannya dalam melakukan pembuatan dan pengendalian hama dengan menggunakan Pestisida Organik.
Pengertian
Pestisida organik adalah bahan pengendali hama dan penyakit tanaman yang diramu atau dibuat dari bahan tanaman lokal.
Keunggulan/Keuntungan
  1. Mampu mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit.
  2. Murah karena bahan baku ramuan mudah diperoleh di lingkungan sekitar
  3. Cara pembuatannya mudah (Dapat dibuat sendiri)
  4. Dapat tersedia setiap saat
  5. Aman, karena bahannya berasal dari tanaman yang dukenal
Alat
Parang, pisau, pemukul/batu, parut, lesung, alu, ember bak, gentong, terpal/karung, tali, masker dan kaos tangan.
Bahan
Ubi gadung, akar tuba dan sejenisnya, kulit rita, daun bunga terompet, terung hutan (akar, batang, daun), batang dan daun sambiloto, daun bunga putih, daun/buah paria, nimba, rimpang kaliraga, bawang merah/putih, lombok, daunpapaya, kole, denu, neta, sirih hutan, kecubung, pewau, terung, kulit/biji mahoni, kusi dan lain-lain yang berasal dari jenis tanaman apa saja yang penting bhan tersebut mengandung racun.
Cara pembuatan
  1. Siapkan alat dan bahan pembuatan pestisida organik pada tempat yang telah disiapkan atau ditentukan.
  2. Bahan yang berasal dari umbi dikupas kulitnya, kemudian yang berasal dari batang, akar, rimpang dan kulit dibersihkan lalu dipotong dimemarkan dengan batu atau dicincang. Sedangkan bahan yang berasal dari daun dipisahkan dari tangkainya lalu dicincang dan ditumbuk sampai halus. Bahan-bahan tersebut disimpan secara terpisah menurut jenisnya pada wadah yang telah disediakan.
  3. Ubi gadung diparut pada wadah yang tidak bocor
  4. Bahan yang berasal dari batang, akar, rimpang, dan kulit yang sudah tersedia dimemarkan dan ditumbuk hingga halus
  5. Bahan yang berasal dari daun-daun yang sudah ditumbuk diperas dan diambil airnya. Saat diperas tidak boleh menggunakan air dalam jumlah yang banyak. Air hanya dapat digunakan sebagai pemancing pada saat pemerasan
  6. Bawang merah, bawang putih dan lombok diulak hingga benar-benar halus.
  7. Setelah itu, masukan ubi gadung yang sudah diparut, dan air hasil perasan daun-daun di dalam ember bak atau gentong yang disiapkan untuk adonan bahan-bahan tersebut
  8. Masukan sedikit demi sedikit bahan-bahan tersebut menurut jenisnya ke dalam bak adonan, kemudian diaduk sampai merata.
  9. Ember bak atau gentong yang berisi adonan ditutup rapat dengan tutupannta atau bahan lainnya dan diikat dengan tali kemudian disimpan di tempat yang aman, lalu diperam selama dua minggu (14 hari)
  10. Setelah empat belas hari adonan tersebut dibuka untuk diperas dan disaring airnya. Cairan tersebutlah yang dinamakan pestisida organik. Pestisida organik dimasukan ke dalam jerigen atau botol-botol atau wadah lain yang telah disiapkan. Pestisida organik yang telah diisi pada wadah tersebut dapat bertahan hingga satu tahun.
Pengakiran
  1. Bersihkan sisa-sisa bahan kemudian dikumpulkan untuk dibenamkan di sekitar tanaman.
  2. Cuci alat dan kembalikan pada tempat semula.
  3. Simpan pestisida organik di tempat yang aman.

Dosis penggunaan
  1. Pencegahan.
Gunakan pestisida organik dengan takaran 8 sendok makan yang dicampurkan dengan 10 liter air. Penyemprotan dilakukan 2 kali dalam seminggu.
  1. Pemberantasan.
Gunakan pestisida organik dengan takaran 10 senduk makan yang dicampurkan dengan 10 liter air. Penyemprotan dilakukan 3 kali dalam seminggu.
Jenis hama yang dapat dikendalikan dengan pestisida organik
  1. Hama putih yang menyerang tanaman pangan, hortikutura dan tanaman perkebunan
  2. Penggerek batang yang menyerang padi
  3. Kutu hijau dan kutu putih yang menyerang tanaman kopi
  4. Hama walang sangit yang menyerang tanaman padi
  5. Hama helopestis, penggerek buah dan penggerek batang yang menyerang tanaman kakao
  6. Penyakit busuk akar dan jenis penyakit atau hama lainnya yang menyerang tanaman.
Petunjuk penggunaan
  1. Dilarang makan, minum atau merokok selama proses pembuatan dan penyemprotan pestisida organik
  2. Penyemprotan harus mengikuti arah angin
  3. Gunakan masker, kaus tangan, baju berlengan panjang.
    Diterbitkan oleh Pusat Sekolah Lapangan (PUSKOLAP) Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya JIRO-JARO
    Wahana Tani Mandiri (WTM) 
    Jl. Feondari, Tanali, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka - 86153. 
    No. Hp. 081 339 407 729 (Win Keupung/Direktur)