Maumere, KN. Sebagai persiapan implementasi
program "Peningkatan Pendapatan Masyarakat dalam Manajemen Pengelolaan di
Kawasan Egon" kerja sama WTM dengan CEPF telah direkrut beberapa staf
baru. Untuk itu, selama dua hari dilakukan kapasitas building di kantor WTM
yang difasilitasi oleh Herry Naif (Koordinator Program) dan Kristoforus
Gregorius (Koordinator Teknis Pertanian). Kegiatan ini juga dihadiri oleh
Direktur dan dua staf Keuangan WTM (Senin-Selasa, 9-10/05/16)
Setelah itu, para fasilitator Lapangan diberi kesempatan untuk melakukan kunjungan belajar (magang) di wilayah program WTM kerja sama dengan Miserior yakni di kecamatan Mego dan Tanawawo yang sudah berjalan 3 tahun. Kegiatan belajar ini dipimpin Kristoforus Gregorius (Koordinator Teknis Pertanian), (Rabu - Kami, 11-12 Mei 2016)
Tidak semua wilayah dampingan WTM dikunjugi, tetapi hanya beberapa wilayah dampingan yang dikunjungi sesuai dengan perencanaan bulanan dari staf WTM (Fasilitator Lapangan), misalnya di wilayah Dobo dan Kowi (Mego) dan Renggarasi dan Bu Selatan (Tana
Setelah itu, para fasilitator Lapangan diberi kesempatan untuk melakukan kunjungan belajar (magang) di wilayah program WTM kerja sama dengan Miserior yakni di kecamatan Mego dan Tanawawo yang sudah berjalan 3 tahun. Kegiatan belajar ini dipimpin Kristoforus Gregorius (Koordinator Teknis Pertanian), (Rabu - Kami, 11-12 Mei 2016)
Tidak semua wilayah dampingan WTM dikunjugi, tetapi hanya beberapa wilayah dampingan yang dikunjungi sesuai dengan perencanaan bulanan dari staf WTM (Fasilitator Lapangan), misalnya di wilayah Dobo dan Kowi (Mego) dan Renggarasi dan Bu Selatan (Tana
Kunjungan
belajar (magang) indimaksudkan agar staf baru melihat sendiri kondisi petani
yang sedang didampingi lembaga ini dan bagaimana proses yang terjadi di
lapangan. Setalah proses belajar lapangan mereka kembali ke kantor WTM,
menyeringkan hasil pengalaman dan pembalajaran apa saja yang diperoleh di
lapangan dan kemudian dilakukan
pembenahan kapasitas dan manajemen agar pelaksanaan program itu tidak mengalami
kendala.
Dari hasil kunjungan belajar itu ada beberapa pembelajaran diungkapkan beberapa hal postif yang ditemukan di lapangan diantaranya; pertama, pendampingan WTM di sana cukup memberi manfaat dimana bagi petani terutama pertanian organik yang kelestarian lingkungan menjadi perhatian petani. Kedua, petani sudah didorong untuk melakukan penelitian benih (pemulian benih). Ini adalah suatu hal baru yang ditemukan, dan belum dilakukan di tempat lain, ungkap Mus Mulyadi.
Lebih lanjut, Mus Mulyadi, mantan ketua LMND mengatakan bahwa selain pertemuan dengan beberapa kelompok tani, kami juga mengunjungi beberapa kawasan mata air untuk memantau kondisi terakhir.
Sedangkan Gabriel Maryanto, menemukan bahwa petani di wilayah Bu Selatan sudah mulai dengan pembibitan tanaman pohon mata air yang dilakukan secara mandiri. Ini sebuah pembelajaran menarik, yang mana petani juga memikirkan tentang pemulihan kawasan mata air. Selain itu juga kami menemukan hal negatif yang mana partisipasi kelompok tani dalam diskusi masih lemah, dan secara keseluruhan petani belum memiliki kelender musim yang tentunya menjadi panduan. Karena, perubahan musim ini cukup signifikan yang akan berpengaruh terhadap proses pertanian.
Menanggapi beberapa hasil belajar yang ditemukan Carolus Winfridus Keupung (Direkut WTM) mengatakan bahwa para staf magang itu ke sana belajar soal teknik memfasilitasi. Karena bila fasilitator salah dalam memfasilitasi maka kita sulit mendapatkan hasil yang baik. Bila dalam perjalanan program kami menilai masih ada yang kurang maka, kami akan mengusulkan untuk kawan-kawan belajar lagi, demikian ungkapnya.
Sedangkan, Herry kemudian mempresentasikan beberapa hal penting yang harus menjadi target program CEPF sebulan ke depan adalah soal kepastian manajemen kelompok tani, rekruitmen kader tani, identifikasi sumber mata air. Selain itu, ditegaskan bahwa sikap kerelawanan yang dilandasi pada kreatif-inovatif harus menjadi basis pelaksanaan program agar kita tidak terpaku dengan aktifitas program yang ada. Tetapi ada sebuah nilai tawar yang akan menjadi pembelajaran publik.
Dari hasil kunjungan belajar itu ada beberapa pembelajaran diungkapkan beberapa hal postif yang ditemukan di lapangan diantaranya; pertama, pendampingan WTM di sana cukup memberi manfaat dimana bagi petani terutama pertanian organik yang kelestarian lingkungan menjadi perhatian petani. Kedua, petani sudah didorong untuk melakukan penelitian benih (pemulian benih). Ini adalah suatu hal baru yang ditemukan, dan belum dilakukan di tempat lain, ungkap Mus Mulyadi.
Lebih lanjut, Mus Mulyadi, mantan ketua LMND mengatakan bahwa selain pertemuan dengan beberapa kelompok tani, kami juga mengunjungi beberapa kawasan mata air untuk memantau kondisi terakhir.
Sedangkan Gabriel Maryanto, menemukan bahwa petani di wilayah Bu Selatan sudah mulai dengan pembibitan tanaman pohon mata air yang dilakukan secara mandiri. Ini sebuah pembelajaran menarik, yang mana petani juga memikirkan tentang pemulihan kawasan mata air. Selain itu juga kami menemukan hal negatif yang mana partisipasi kelompok tani dalam diskusi masih lemah, dan secara keseluruhan petani belum memiliki kelender musim yang tentunya menjadi panduan. Karena, perubahan musim ini cukup signifikan yang akan berpengaruh terhadap proses pertanian.
Menanggapi beberapa hasil belajar yang ditemukan Carolus Winfridus Keupung (Direkut WTM) mengatakan bahwa para staf magang itu ke sana belajar soal teknik memfasilitasi. Karena bila fasilitator salah dalam memfasilitasi maka kita sulit mendapatkan hasil yang baik. Bila dalam perjalanan program kami menilai masih ada yang kurang maka, kami akan mengusulkan untuk kawan-kawan belajar lagi, demikian ungkapnya.
Sedangkan, Herry kemudian mempresentasikan beberapa hal penting yang harus menjadi target program CEPF sebulan ke depan adalah soal kepastian manajemen kelompok tani, rekruitmen kader tani, identifikasi sumber mata air. Selain itu, ditegaskan bahwa sikap kerelawanan yang dilandasi pada kreatif-inovatif harus menjadi basis pelaksanaan program agar kita tidak terpaku dengan aktifitas program yang ada. Tetapi ada sebuah nilai tawar yang akan menjadi pembelajaran publik.
Lebih
dari itu, Herry menekankan kita tidak hanya dituntut penuhi hal administrative
tetapi yang harus diutamakan adalah impact di lapangan. Bahwa hasil dari
program itu harus dirasakan oleh warga Egon dan harus ada beberapa hektar lahan
yang dihijaukan, ujarnya.
Setelah pertemuan, dilakukan persiapan-persiapan administratif yang perlu disertakan dalam aktifitas program di Mapitara.
Setelah pertemuan, dilakukan persiapan-persiapan administratif yang perlu disertakan dalam aktifitas program di Mapitara.